Selasa, 24 November 2020

KEMUHAMMADIYAHAN SPK XII

 

E. PERKADERAN IPM ( IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH )

 

IPM ADALAH Gerakan Islam yang menegakkan nilai nilai Tauhid di muka bumi. Tauhid yang berisi ajaran amar ma’ruf ( humanisasi dan emansipasi ), nahi munkar ( liberasi/pembebasan ) dan tu’minuuna billah (spiritualisasi).

 

IPM Adalah Gerakan Kader, sehingga kaderisasi merupakan tugas utama dan juga sebagai media internalisasi nilai nilai

 

Strategi-strategi gerakan IPM adalah sebagai berikut :

1.    Disiplin menerapkan kaderisasi dalam setiap tingkatan.

2.    Memperbanyak aktivitas-aktivitas perkaderan, baik bersifat formal maupun informal.

3.    Melakukan pendampingan intensif terhadap kader-kader.

4.    Memeberi wadah akualisasi potensi bagi para kader sesuai dengan minat dan bakat.

Tujuan perkaderan IPM adalah membentuk kader-kader yang memiliki sikap,pikiran, pengetahuan, perilaku, dan kecakapan sehingga menumbuhkan kegemaran berdakwah Islamiyah sesuai dengan kepribadian IPM dalam rangka mencapai tujuan IPM.

Komponen perkaderan IPM terdiri dari perkaderan : Formal dan Non formal.

 

F. Perkaderan IMM ( Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah )

Sebagai salah satu bagian dari gerakan kader Muhammadiyah, orientasi perakaderan IMM diarahkan pada terbentuknya kader yang siap  berkembang sesuai dengan spesifikasi profesi yang ditekuninya, kritis, logis, terampil dan juga progresif.

Arah perkaderan IMM adalah Penciptaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, berakhlak mulia dengan proyeksi sikap individual yang mandiri, bertanggung jawab dan memiliki komitmen dan kompetensi perjuangan dakwah Islam amar Ma’ruf nahi Munkar.

KOMPONEN DAN JENJANG PERKADERAN dalam IMM terbagi sebagai berikut :

1.    Komponen Pra Perkaderan ( Rekruitmen dan Masa taaruf /Masta)

2.    Komponen Perkaderan Utama ( bersifat wajib dan komponen pokok )

a.    Darul Arqam Dasar ( DAD )

b.    Darul Arqam Madya (DAM )

c.    Darul Arqam Paripurna (DAP)

3.    Komponen Perkaderan Khusus

a.    a.Latihan Instruktur Dasar (LID)

b.    Latihan Instruktur Madya (LIM)

c.    Latihan Instruktur Paripurna (LIP)

4.    Komponen Perkaderan Pendukung

Yaitu : Komponen perkaderan yang dialksanakan untuk meningkatkan potensi kader sesuai dengan minat, bakat, keterampilan, keahlian dan kemampuan dalam rangka mendukung keberhasilan proses kaderisasi IMM.

G. Perkaderan Nasyiatul 'Asiyiyah


Jenis-jenis Sistem Perkaderan Nasyiatul Aisyiyah

Ada tiga jenis sistem perkaderan Nasyiatul 'Aisyiyah, yaitu: Formal, Non Formal, dan Informal

- Perkaderan Formal adalah perkaderan yang wajib diikuti oleh semua anggota Nasyiatul Aisyiyah secara berjenjang dan merupakan satu rangkaian yang utuh dari SPNA, meliputi : Darul Arqom I, II dan III serta Latihan Instruktur I dan II.

- Perkaderan Non Formal adalah perkaderan yang sifatnya pilihan sesuai dengan minat, bakat anggota untuk mengembangkan ketrampilan.

- Perkaderan Informal adalah perkaderan yang sifatnya menunjang pengembangan dan pelaksanaan organisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tingkatan.

H. PEMUDA MUHAMMADIYAH
Pemuda Muhammadiyah adatah organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah yang merupakan gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar di kalangan pemuda, beraqidah Islam, dan bersumber pada al-Quran dan Sunnah Rasul. Organisasi ini didirikan dengan maksud dan tujuan untuk menghimpun, membina, dan menggerakkan potensi Pemuda Islam serta meningkatkan perannya sebagai  kader untuk mencapai tujuan Muhammadiyah.

Pencapaian maksud dan tujuan tersebutdilakukan dengan upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah  Subhanahu Wa ta'ala.
  2. Memperdalam ilmu, memperluas pengetahuan dan meningkatan kecerdasan  serta mengamatkan sesuai dengan ajaran Islam.
  3. Memperdalam dan meningkatkan pemahaman  Agama Islam.
  4. Menyelenggarakan dan meningkatkan mutu pendidikan kader.
  5. Mengadakan dakwah di kalangan pemuda dan remaja.
  6. Meningkatkan fungsi dan peran pemuda Muhammadiyah sebagai kader Muhammadiyah, kader umat Islam, dan kader bangsa.
  7. Memasyarakatkan dan meningkatkan kegiatan olahraga sebagai sarana dakwah Islamiyah.
  8. Menumbuhkan dan mengembangkan seni budaya yang bernafaskan Islam.
  9. Menggembirakan beramal yang diridhai Allah dan hidup tolong-menolong (ta'awun) dalam ukhuwah Islamiyah.
  10. Usaha-usaha lain yang tidak menyalahi tujuan.
I. HISBUL WATHAN

Kepanduan Hizbul Wathan adalah organisasi otonom Persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak dalam bidang pendidikan kepanduan putra maupun putri, merupakan gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar, berakidah Islam dan bersumberkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk mewujudkan masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah dengan jalan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam lewat jalur pendidikan kepanduan.

 Pencapaian maksud dan tujuan HW dilakukan dengan upaya-upaya sebagai berikut:

1.Melalui jalur kepanduan ingin meningkatkan pendidikan angkatan muda putra ataupun putri menurut ajaran Islam.

2.Mendidik angkatan muda putra dan putri agar menjadi manusia muslim yang berakhlak mulia, berbudi luhur sehat jasmani dan rohani.

3.Mendidik angkatan muda putra dan putrid menjadi generasi yang taat beragama, berorganisasi, cerdas dan trampil.

4.Mendidik generasi muda putra dan putri gemar beramal, amar makruf nahi munkar dan berlomba dalam kebajikan.

5. Meningkatkan dan memajukan pendidikan dan pengajaran, kebudayaan serta memperluas ilmu pengetahuan sesuai dengan ajaran agama Islam.

6.Membentuk karakter dan kepribadian sehingga diharapkan menjadi kader pimpinan dan pelangsung amal usaha Muhammadiyah.

7. Memantapkan persatuan dan kesatuan serta penanaman rasa demokrasi serta ukhuwah sehingga berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

8.Melaksanakan kegiatan lain yang sesuai dengan tujuan organisasi.

J. TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH 

Tapak Suci Putera Muhammadiyah adalah organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah yang beraqidah Islam, bersumber pada Al-Qur'an dan As-sunnah, berjiwa persaudaraan, dan merupakan perkumputan dan perguruan seni bela diri. Maksud dan tujuan Tapak Suci adatah sebagaiberikut:

1.Mendidik serta membina ketangkasan dan ketrampilan pencak sitat sebagai seni beladiri Indonesia.

2.Memelihara kemurnian pencak sitat sebagai seni beladiri Indonesia yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Islam sebagai budaya bangsa yang luhur dan bermoral.

3.Mendidik dan membina anggota untuk menjadi kader Muhammadiyah.

4.Metalui seni beladiri menggembirakan dan mengamalkan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dalam usaha mempertinggi ketahanan Nasional.

Pencapaian maksud dan tujuan Tapak Suci tersebut dilakukan dengan upaya-upaya berikut:

1. Memperteguh iman, menggembirakan dan memperkuat ibadah serta mempertinggi akhlaq yang mulia sesuai dengan ajaran Islam.

2. Menyelenggarakan pembinaan dan pendidikan untuk melahirkan Kader Muhammadiyah.

3. Menyelenggarakan pembinaan seni Beladiri Indonesia.

4. Mengadakan penggalian dan penelitian limu Seni Beladiri untuk meningkatkan dan mengembangkan kemajuan Seni Beladiri Indonesia.

5.Aktif datam lebaga olahraga dan seni baik yang diadakan oleh Pemerintah maupun swasta yang tidak menyimpang dari maksud dan tujuan Tapak Suci.

6. Menggembirakan penyelenggaraan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar sesuai dengan proporsi seni beladiri.

7. Menyelenggarakan pertandingan dan tomba serta pertemuanuntuk memperluas pengalaman dan persaudaraan.

8. Menyelenggarakan usaha lain yang dapat mewujudkan tercapainya meksud dan tujuan


Selasa, 03 November 2020

Kemuhammadiyahan XII SPK : Materi 15

 Pertemuan 15 ( 4 November 2020 )

4 (empat) pilar perkaderan di Aisyiyah, yaitu :

1. Kaderisasi keluarga

Kaderisasi keluarga adalah upaya transformasi nilai yang ditanamkan sejak dini untuk kepentingan kaderisasi dan pengembangan gerakan ‘Aisyiyah. Tujuan pembinaan kaderisasi keluarga diarahkan pada terbentuknya kepriadian individu menjadi pribadi muslim, mukmin, muhsin dan muttaqin dalam keluarga sebagaiaman kualitas individu utama yang dicita-citakan ‘Aisyiyah. Dengan kader yang berkualitas Islami dimaksudkan untuk membentuk keluarga sakinah, qaryah thayyibah yaitu suatu perkampungan atau desa dimana masyarakatnya menjalankan ajaran Islam secara kaffah baik dalam hablum minallah maupun hablum minannas dalam segala aspek kehidupannya yang meliputi bidang aqidah, akhlak dan muamalah duniawiyah.

2. Kaderisasi melalui Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)

AMM adalah wadah kegiatan secara organisatoris fungsional bahkan potensial bagi regenerasi organisasi. AMM memiliki peran sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna cita-cita Muhammadiyah. Warga AMM dengan idealisme tinggi, daya kritis yang tajam dan sensitivitas serta fisik yang prima menjadi sumber daya organisasi yang kondusif bagi penerus kegiatan ‘Aisyiyah.

Untuk meningkatkan dan mengoptimalkan pembinaan kader AMM putri, antara lain melaksanakan kegiatan yang sejalan dengan minat kaum mudan dan yang sesuai dengan spirit zaman mereka, serta menyediakan dukungan bagi peningkatan kualitas diri mereka. Contoh melibatkan AMM putri dalam setiap kegiatan ‘Aisyiyah.

3. Kaderisasi melalui Amal Usaha ‘Aisyiyah

Sebagai ortom khusus, ‘Aisyiyah memiliki amal usaha yang boleh sama dengan Muhammadiyah. Amal usaha ‘Aisyiyah adalah wahana melaksanakan misi dakwah dan kaderisasi ‘Aisyiyah. Sebagai tempat kaderisasi, seluruh program dan aktifitas di amal usaha merupakan proses untuk menyiapkan kader-kader pelopor, pelangsung, penerus dan penyempurna amal usaha ‘Aisyiyah.

Kaderisasi Pimpinan Organisasi

Kaderisasi pimpinan adalah upaya pembinaan dan pengembangan kader pada level Pimpinan ‘Aisyiyah dari tingkat pusat sampai ranting dan pimpinan AMM putri. Langkah optimalisasi kaderisasi pimpinan dilakukan dengan usaha-usaha seperti program ideopolitor, serta penyiapan kader secara formal dalam setiap tingkat pimpinan yang diatur secara struktural sehingga dapat dimonitor dan dievaluasi.

Perkaderan ‘Aisyiyah dilakukan melalui jalur formal, non formal, informal dan khusus

1. Perkaderan formal

Adalah bentuk perkaderan yang dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dalam berbagai macam bentuk dan jenis. Contohnya adalah Baitul Arqam ‘Aisyiyah dan pelatihan khusus yang dilakukan oleh pimpinan organisasi, majelis maupun lembaga. Pelatihan khusus ‘Aisyiyah mencakup semua bidang antara lain kepemimpinan, tabligh, sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan hidup.

2. Perkaderan non formal

adalah perkaderan yang dilaksanakan secara terprogram diluar kegiatan pelatihan. Bentuk-bentuk perkaderan non formal antara lain penataran pimpinan, penyegaran atau revitalisasi pimpinan, ideopolitor, pengajian Ramadhan dan pengajian khusus.

3. Perkaderan informal

Merupakan perkaderan yang dilakukan secara tidak resmi dalam interaksi kehidupan antara anggota, pimpinan maupun kader tanpa perencanaan sistematik, baik kurikulum, metode, waktu maupun tempatnya. Pelaksanaan perkaderan informal dilakukan melalui pembinaan keluarga sakinah, pembinaan kehidupan Islami dan ‘Aisyiyah melalui kegiatan-kegiatan di semua jenjang organisasi, di amal usaha ‘Aisyiyah dan Qaryah Thayyibah, pembangunan jamaah melalui gerakan jamaah dan dakwah jamaah serta pengembangan sistem asistensi.

4. Perkaderan khusus

Perkaderan khusus adalah bentuk perkaderan yang secara khusus dilakukan untuk menyiapkan kader-kader ‘Aisyiyah melalui berbagai macam dan jenis perkaderan secara komprohensif. Perkaderan khusus dirancang melalui perkaderan pondok pesantren dan sekolah kader.

Minggu, 25 Oktober 2020

Kemuhammadiyahan X SPK : Pertemuan 11

 

PERTEMUAN 11

( SENIN, 26 OKTOBER 2020 )

MENULIS AYAT AYAT ALQUR’AN BESERTA ARTINYA :

BERKAITAN DENGAN MATERI PEMBELAJARAN KEMUHAMMADIYAHAN

 

1.    SURAT AL MUJADILAH : 11 dan terjemahnya.

2.    SURAT AL ISRA’ : 34 dan terjemahnya.

3.    SURAT ALI ‘IMRAN : 104 dan terjemahnya.

4.    SURAT AN NISAA’ : 82 dan terjemahnya.

 

DIKERJAKAN DI BUKU KEMUHAMMADIYAHAN KELAS X

SEMANGAT BELAJAR & SEMOGA SUKSES.

Rabu, 21 Oktober 2020

Kemuhammadiyahan : XI SPK

 KEPRIBADIAN MUHAMMADIYAH 

A. Latar Belakang Perumusan Kepribadian Muhammadiyah

 Kepribadian Muhammadiyah adalah salah satu dari beberapa rumusan resmi dan doktrin ideologi persyarikatan Muhammadiyah yang di sahkan pada muktamar ke-35 di Jakarta pada tahun 1962. Rumusan Kepribadian Muhammadiyah ini didasari oleh sosialisasi politik yang tidak menentu. sebagaimana diketahui bahwa keluarnya Dejri Presiden 5 Juli 1959 merupakan akibat dari jalan buntu yang ditemui konstituante dalam merumuskan dasar negara republik Indonesia. isi pokok dekrit itu adalah kembali ke UUD 1945, dan Indonesia memasuki jaman baru yang dikenal dengan demokrasi Terpimpin.

Puncak dari penyimpangan yang terjadi adalah terpusatnya seluruh kekuasaan di tangan presiden. semua kekuatan sosial politik yang secara terang-terangan menantang konsep tersebut dibubarkan atau dipaksa untuk membubarkan diri. hal ini juga menimpa partai masyumi ( Majelis Suro Muslimin Indonesia) dan PSI ( Partai Sosialis Indonesia). sikap kedua partai tersebut membuat presiden Soekarno sangat kecewa dan marah besar. lebih-lebih ketika Masyumi dan PSI menolak ajakan untuk masuk dalam kabinet yang akan dibentuknya. penolakan kedua partai tersebut didasarkan pada alasan mereka untuk tidak mungkin bersanding dalam satu kabinet dengan PKI. Keadaan ini diperparah lagi dengan adanya beberapa pimpinan Masyumi yang terlibat dalam pemberontakan yang dilakukan PRRI ( Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia ).

melihat posisi Masyumi yang sangat negatif di mata presiden, maka PKI akhirnya melakukan manufer politik dengan membujuk Presiden Soekarno agar segera membubarkan partai-partai yang menentang kebijakan-kebijakanya. Usaha yang dilakukan PKI berhasil dengan keluarnya Surat Keputusan Presiden Keppres nomor 200 Tahun 1960 yang intinya meminta pimpinan Masyumi untuk membubarkan partai atau Masyumi dibubarkan. Akhirya pada 13 September 1960 Pimpinan Pusat Masyumi secara resmi menyatakan membubarkan diri, termasuk bagian cabang dan rantingnya di seluruh Indonesia.

Tokoh- tokoh Muhammadiyah yang berperan serta anggota Pimpinan Masyumi dalam berbagai Tingkatan, diantaranya : 

- Ki Bagus Hadikusumo

- K.H Faqih Usman

- Prof. Dr. Hamka

- Prof Abdul Kahar Muzakir

-   Mr. Kasman Singodimejo

- H.M Yunus Anies

- K.H  Yunus Anies

- K.H. R Hadjid

- AR. Fachrudin

    Setelah Masyumi membubarkan diri, warga Muhammadiyah yang semula aktif di partai politik Islam yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah itu kemudian aktif kembali ke dalam persyarikatan. Hanya saja, pola perjuangan di partai politik masih terbawa ke dalam Muhammadiyah. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan akan dapat merusak tradisi organisasi dan semangat perjuangan muhammadiyah sebagai gerakan islam. 

Dirumuskannya Kepribadian Muhammadiyah dilatar belakangi oleh kebutuhan persyarikatan akan adanya rumusan yang dapat dijadikan pedoman bagi persyarikatan Muhammadiyah. Pada saat itu KH. Faqih Usman memberikan rangsangan gagasan kepada Muhammadiyah akan pentingnya jatidiri Muhammadiyah melalui ceramah, disampaikan pada saat pelatihan/ kursus yang diselenggarakan PP Muhammadiyah pada tahun 1381 H bertepatan dengan 1961 M yang diikuti oleh wakil dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Indonesia. Adapun ceremah tersebut berjudul tentang “apakah Muhammadiyah itu?”.

Menilik judul ceramah yang disampaikan oleh KH. Faqih Usman tersebut tentang apakah Muhammadiyah itu?, bermaksud untuk memberikan pemahaman mendalam tentang Muhammadiyah kepada kader Muhammadiyah. Mengetahui dan memahami Muhammadiyah bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi Mengetahui dan memahami Muhammadiyah harus sampai ke akar-akarnya. Dalam susunan kalimat tanya kata “apakah” merupakan pertanyaan dasar/awal dalam menggali sebuah informasi.

Gagasan KH. Faqih Usman tersebut direspon oleh PP Muhammadiyah yang pada saat itu dipimpin oleh KH. M. Yunus Anies, dengan membentuk tim perumus dan penyempurna. Adapun personil tim perumus dan penyempurna Kepribadian Muhammadiyah sebagai berikut:

  • Faqih Usman
  • Farid Ma’ruf
  • Djarnawi Hadikusumo
  • Djindar Tamimy
  • Dr. KH. Hamka
  • Mohammad Wardan Diponingrat
  • KH. M. Saleh Ibrahim

Setelah menyelesaikan rumusannya, tim tersebut menyerahkan hasilnya kepada PP Muhammadiyah dan dibahas pada sidang tanwir muhammadiyah pada tanggal 25-28 Agustus 1962, para peserta sidang tanwir menerima rumusan tersebut untuk disahkan pada Muktamar. Akhirnya pada Muktamar ke 35 di jakarta rumusan kepribadian Muhammadiyah resmi di sahkan pada tanggal 29 April 1963 dan dapat dijadikan sebagai pedoman dan pegangan bagi seluruh warga persyarikatan. Pada Muktamar ke 35 juga terpilih ketua PP Muhammadiyah bart menggantikan HM Yunus Anies yaitu KH. Ahmad Badawi periode 1963 – 1968.

Selasa, 20 Oktober 2020

Kemuhammadiyahan XII SPK : Materi 14

 

Rabu, 21 Oktober 2020

 

B. PERKADERAN ‘AISYIYAH

 

Kaderisasi ‘Aisyiah diarahkan untuk membentuk kaderyang mampu menggerakkan, memajukn, mengembangkan organisasi. Selain itu juga untuk mningkatkan kuantitas dan kualtas kader yang memilki integritas ,kompetensi keagamaan dan ghirah(semangat) perjuangan,sikap dan tindakan yang berpengaruh pada nilai-nilai Islam berkemajuan  sehingga dapat berperan dalam ‘Aisyiah, Persyarikatan Muhammadiyah, dalam kehidupanumat dan dinamika bangsa serta dalam konteks global.

Kaderisasi ‘Aisyiah diarahkan pada:

1.    Nilai-nilai yang berwatak tajdid sebagaimana dikembangkan K.H Ahmad Dahlan, yaitu nilai-nilai islam yang berkemajuan, untuk menjawab tantangan zaman.

2.    Penanaman ideologi gerakan untuk menumbuh-kembangkan idealisme, komitmen, integritas, militansi, solidaritas, dan pembelaan terhadap misi dan kepentingan mereka.

3.    Transformasi pembudayaan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah dan’Aisyiah untuk menanamkan pengkhidmatan dalam gerakan.

4.    Berbasis pada kompetensi dan potensi sebagai kekuatan aktual dalam mendukung gerakan ‘Aisyiah.

5.    Berbasis pada kekuatan mentalis yang menyangkut karakter, kepribadian dan pola tindakan yang positif berbasis kepribadian Muhammadiyah untuk melahirkan dinamika dan sikap proaktif dalam menjalankan peran gerakan.

6.    Penguatan sinergi peran kader sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa dalam satu kesatuan peran dalam menjalankan misi gerakan ‘Aisyiah.

 

Minggu, 18 Oktober 2020

Kemuhammadiyahan X SPK : Pertemuan 10

 Senin, 19 Oktober 2020

 

D.     Tantangan dan Usaha-usaha K.H. Ahmad Dahlan dan Para Sahabatnya dalam Mendirikan dan Memperjuangkan Muhammadiyah

Islam yang otentik dan murni bagi K.H. Ahmad Dahlan adalah Islam yang bersumber pada Al-Quran dan hadits, doktrin ini membuka ruang dilakukannya ijtihad dimana akal dipergunakan untuk memecahkan problem kontemporer. Ia menerjemahkan ajaran Islam dalam wilayah kemanusiaan dengan menggarap kerja sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan.

Pribadi  bertipe man of action K.H. Ahmad Dahlan adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap tafsiran Al-Manaar. Beliau juga membuka lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam untuk menyerukan ijtihad dan menolak taklid. Tahun 1906 ia diangkat sebagai khotib Masjid Besar Yogyakarta dengan menadapat gelar Ketib Amin, 1 tahun kemudian ia mempelopori Musyawarah ‘Alim Ulama dan rapat pertama beliau menyampaikan masalah arah kiblat Masjid Besar Yogyakarta yang kurang tepat. Tahun 1909 K.H. Ahmad Dahlan bergabung dalam Jamiat Khair, yang merupakan organisasi bidang pendidikan yang anggotanya mayoritas adalah orang-orang Arab dan Budi Utomo yang bertujuan sebagai wadah semangat kebangsaan juga untuk memperlancar aktifitas dakwah dan pendidikan Islam dan mengajar agama Islam kepada peserta didik di sekolah Belanda. Sekolahitu diantaranya adalah Kweekschool di Jetis, OSVIA (Opleiding School Voor Indlandsch Amtenaren), sekolah Pamong Praja di Magelang.

Penolakan oleh santri tentang pembaruan di bidang pendidikan yang modern membuat K.H. Ahmad Dahlan merintis amal usaha di bidang pendidikan pada tanggal 1 Desember 1911 yakni Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Sekolah ini menggunakan sistem pendidikan barat dan berada di ruang tamu rumahnya. Peserta didik berasal dari anak keluarga K.H. Ahmad Dahlan sendiri pun masih mendapat penolakan karena hasutan yang mengatakan beliau sebagai kyai palsu, kristen alus, bahkan dianggap kafir karena mengadaptasi model pendidikan sekolah Belanda. Karena tuduhan-tuduhan tersebut banyak peserta didik yang meninggalkan madrasah, akhirnya K.H. Ahmad Dahlan mendatangi setiap rumah peserta didiknya.

Bertepatan dengan 18 November 1912 M (18 Dzulhijah 1330 H) beliau mendirikan gerakan Islam yang diberi nama Muhammadiyah. Deklarasi ini dilakukan di gedung Loodge Gebouw (sekarang gedung DPRD DIY) agar diketahui oleh pemerintah dan kesultanan. Pilihan nama organisasi ini berdasarkan nama Nabi terakhir agar kehidupan beragama dan bermasyarakat menyesuaikan dengan pribadi Nabi. Pada tahun 1920 beliau juga mendirikan perkumpulan kaum ibu,yaitu Sapa Tresna ( ‘Aisyiyah), kegiatannya adalah mengadakan pengajian-pengajian. Pada tahun 1917 beliau mendirikan pengajian malam Jum’at sebagai forum dialog dan tukar pikiran kemudian melahirkan Korps Mubaligh Keliling utnuk menyantuni dan memperbaiki kehidupan yatim piatu, fakir miskin, dan orang yang sednag dilanda musibah. Tahun 1918 beliau mendirikan Hizbul Wathan yang diketuai oleh haji Muchtar. Tahun 1931 didirikan Nasyiatul Aisyiyah (sekarang Nasyiyah). Tahun 1921 beliau mendirikan badan yang membantu kemudahan pelaksanaan ibadah haji bagi orang Indonesia. Pada tahun yang sama beliau mendirikan mushalla khusus perempuan pertama di Indonesia. Tahun 1922 beliau membentuk Badan Musyawarah Ulama untuk mempersatukan ulama di Hindia Timur dan merumuskan kaidah hukum Islam sebagai pedoman pengamalan Islam, diketuai oleh R.H. Mohammad Kamaludiningrat, seorang penghulu kraton yang mendirikan Majelis Tarjih.

Berbagai uraian yang telah dikemukakan di atas menggambarkan betapa banyak rintisan yang telah diperjuangkan K.H. Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah di Indonesia dengan membuktikan dirinya sebagai manusia ynag memiliki integritas sebagai muslim, yaitu adanya kesatuan antara pemikiran, ucapan, dan perbuatan.


Rabu, 14 Oktober 2020

Kemuhammadiyahan XI SPK : Materi 11

 Kamis, 15 Oktober 2020

4.     Pokok pikiran ke empat

Berjuang menegakan dan menjunjung tinggi agama islam untuk mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya adalah wajib sebagai ibadah kepada Alloh SWT, dan berbuat ishlah dan ishan dan kepada semua manusia. Apabila dalam pokok pikiran ke tiga menggambarkan tentang pandangan hidup atau keyakinan hidup, bahwa islam sebagai satu-satunya keyakinan hidup maka sebagai konsekuensi dari apa yang telah dipilihnya tersebut harus diperjuangkan dengan semaksimal mungkin. Iman adalah suatu kesepakatan janji antara manusia dengna Tuhan bukan sekedar pengakuan dan kepercayaan. Iman adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa hanya Alloh SWT Tuhan kita yang berdaulat yang Maha Memerintah segala sesuatu yang dimiliki manusia termasuk dirinya sendiri adalah kepunyaan Alloh SWT yang harus dipergunakan sesuai petunjuk-petunjuknya.

5.     Pokok pikiran ke lima

Perjuangan menegakan dan menjunjung tinggi agama islam untuk mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya hanya akan berhasil bila dengan mengikuti jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pokok pikiran tersebut tertuang dari MADM dengan penjelasan sebagai berikut : “ Syahdan, untuk menciptakan msyarakat yang bahagia dan sentosa, maka setiap orang terutama umat islam, yang percaya akan Alloh SWT dan hari kemudian, wajib mengikuti jejak Nabi yang suci, beribadah kepadanya dan berusaha segiat-giatnya mengumpulkan segala kekuatan dan menggunakanya untuk menjelmakan masyarakat itu di dunia ini. Selain itu umat islam juga harus bersabar dan tawakal, bertabah hati menghadapi segala kesukaran yang menimpa dirinya atau rintangan yang menghalangi pekerjaanya dengan penuh pengharapan perlindungan dan pertolongan Alloh SWT yang Maha Kuasa. Pokok pikiran ini lebih membahas tentang bagaimana cara dan akhlak berjuang dalam menegakan keyakinan hidup. Bagi seorang muslim tidak ada cara dan contoh yang patut dijadikan sebagai teladan dalam berjuang menegakan islam kecuali mengikuti cara perjuangan para Nabi terutama Nabi Muhammad SAW. Karena kehidupan nabi yang seluruhnya diperuntukan dalam perjuangan menegakan cita-cita agung yakni kejayaan agama Alloh SWT di seluruh alam semesta. Sifat-sifat utama perjuangan para nabi yang wajib diikuti selain beribadah kepada Alloh SWT adalah memiliki sifat kesungguhan atau jihad, ikhlas, penuh rasa tanggung jawab, sabar dan tawakal.

6.     Pokok Pikiran Ke Enam

Perjuangan mewujudkan maksud dan tujuan tersebut hanya dapat di capai apabila dilaksakan dengan cara berorganisasi. Pokok pikiran ini menggambarkan betapa Muhammadiyah memerlukan alat perjuangan untuk mewujudkan pokok-pokok pikran sebelumnya. Alat perjuangan yang dimaksud adalah organisasi. Karena itulah pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H atau 18 November 1912 Miladiyah, K.H. Ahmad Dahlan Mendirikan organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan islam, persyarikatan ini disusun dengan majelis-majelis yang dipimpin oleh hikmah kebijaksaan dalam permusyawaratan atau Muktamar. Perjuangan menegakan ajaran islam hanya dapat berhasil secara efektif dan efisien apabila diperjuangkan dengan menggunakan media berupa organisasi. Tanpa organisasi, perjuangan dalam menegakan agama islam tidak akan sempurna.

7.     Pokok Pikiran ke Tujuh

Seluruh perjuangan di arahkan pada satu titik tujuan, yakni tercapainya tujuan Muhammadiyah, “ Terwujudnya Masyaraat islam yang sebenar-benarnya”. Pokok pikiran tersebut di atas dirumuskan dalam MADM sebagai berikut : ke semuanya itu perlu untuk menunaikan kewajban mengamalkan perintah-perintah Alloh SWT dan mengikuti Sunah Nabi Muhammad SAW guna mendapat karunia dan ridhonya di dunia dan akhirat. Selain itu, kewajiban tersebut juga untuk mencapai masyarakat yang sentosa dan bahagia, disetai nikmat dan rakhmat Alloh SWT yang melimpah. Muhammadiyah sebagai organisasi telah menetapkan bahwa segala gerak dan amal usaha yang telah dan akan dirintisnya harus senantiasa berorientasi pada pencapaian tujuan yang telah di cita-citakan sejak semula, yakni terwujudnya masyarakat islam yang adil, makmur yang diridhoi Alloh SWT dimana kesejahteraan, kebaikan, dan kebahagiaan luas dan merata. Tata kehidupan masyarakat yang sejahtera, aman, damai, makmur dan bahagia yang diwujudkan di atas dasar keadilan, kejujuran, persudaraan dan gotong royong, saling tolong-menolong adalah perwujudan dari masyarat islam yang sebenar-benarnya.


Kemuhammadiyahan kelasXI SPK

 Kamis,13 April 2023 BAB 5 Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah atau PHIWM   Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) adalah...